Taukah temans, bahwa Allah itu benar-benar akan langsung
mem-follow up niatan baik kita meski itu baru lintasan hati?
Ga percaya?
Memang kadang kita tidak menyadarinya, kita merasa
biasa-biasa saja, kadang merasa Allah kok nampak ‘not responding’ yah…. Jangankan
lintasan hati, bahkan do’a yang benar-benar diucapkan pun seolah seperti
di’cuekin’ sama Allah… Hingga sering kita merasa Allah tidak peduli, alhasil
kita meragukan-Nya, meragukan pertolongan-Nya. Meragukan kalau Dia mendengar
permintaan kita.
But… sekali-kali tidak begitu. Allah itu perespon yang baik.
Yang paling cepet. Responsive banget deh pokoknya.
Terus kenapa harapan dan doaku sering ga dikabulkan? Minta A
dikasih B. Minta didekatkan ke B, malah dijauhin. Minta rumah yang mewah, malah
dipertemukan dengan saudara yang membutuhkan. Minta pengen bisa umroh, ehhh…
malah keluarga dapat musibah. Responsive apanyaaaaa….??? Arrgghhhh… >,<
Hey.. hey… itulah cerdasnya Allah sebagai pembuat scenario
paling hebat sejagat raya.
Coba kalau kita nonton film, lebih seneng film yang dari
awal udah kebaca ujungnya kaya gimana atau film yang justru bikin penasaran…
apa sih end-nya… ayoo, mana film yang akan membuat kita stay tune???
Tentunya kita bakalan setia nonton film yang bikin gregetan,
sebenarnya ‘mau dibawa kemana’.
Kenapa?
Soalnya itu lebih menarik. Lucunya, kita akan merasakan
sensasi yang luar biasa tatkala end-nya ga kepikiran sama kita dan bikin kita
terkejut. Kita suka langsung berpikir bahwa pembuat skenarionya itu cerdas
banget.
Tau ga kenapa banyak dari kita yang ‘ga suka’ dengan
sinetron-sinetron Indonesia?
Soalnya kisahnya gitu-gitu aja… bahkan adegannya bisa
ditebak. Ampe ujungnya aja udah keliatan. Makanya, kita jadi males. Apalagi
modelan ceritanya sama semua…. Ya ngga??? :D
So, Allah ga mungkin bikin scenario hidup yang ‘ngebosenin’
donk… Dia Yang Maha Cerdas. Dia akan buat segala sesuatunya memerlukan
‘kecerdasan’ untuk dipecahkan. Dia akan mengajak kita tidak hanya pandai
berdo’a dan ikhtiar tapi juga pandai menilai dan menganalisa setiap garis merah
yang diberikan-Nya dalam tiap potongan puzzle kehidupan kita. Dia mengajari
kita untuk menjadi hamba yang pintar, yang bisa kaya Conan Edogawa, pandai
merangkai setiap kejadian, setiap petunjuk hingga menemukan sebuah fakta,
sebuah kebenaran. Begitulah Allah…
Karena itu, mari coba ditilik-tilik lagi….
Setelah kita berdoa, atau saat hati kita berharap akan
sesuatu… apa yang terjadi setelah itu? Adakah sebuah kejadian? Adakah tiba-tiba
sebuah kesempatan yang tidak disangka-sangka? Adakah sesuatu?
Segera analisa, segera ambil dan segera jalani. Mungkin
saja, itu adalah jawaban-Nya. Bisa jadi itu adalah jalan dari-Nya.
Jadi ingat,, beberapa bulan yang lalu, sekitaran 5 bulan
kebelakang. Aku bertekad untuk mulai serius dengan tulisan. Ingin mulai
menunjukkan kepada dunia hasil tarian jariku. Maka, aku mulai membuka kembali
blog dan menulis. Setidaknya saat itu, aku janji bahwa minimal satu bulan
sekali harus ada postingan tulisan baru. Dan aku juga mulai berpikir untuk
menulis Novel yang sejak SMA ga pernah beres… X_X
Luar biasanya, Allah seolah menjawab… tiba-tiba aku
mendapatkan informasi sebuah kompetisi pembuatan novel dari salah satu penerbit
besar. Waaaa…. Makin semangat. Deadline-nya Juli 2012, dan aku buat timeline,
memastikan bahwa novel ini kelar tepat waktu.
Waktu berjalan, bulan berikutnya aku masih konsisten membuat
postingan di Blog dan sedikit demi sedikit menambah halaman novelku. Bulan
berikutnya lagi, aku mulai disibukkan dengan persiapan program Ramadhan. Karena
kebetulan aku adalah amil di salah satu lembaga amil Zakat Nasional plus
panitia Ramadhan juga, maka Ramadhan menjadi peak season yang luar biasa.
Pokoknya sibukkkk bangettt (perasaanku)… kesibukan dimulai sejak Sya’ban…
persiapan ini itu… produk-produk Ramadhan… meeting-meeting… lumayan mengambil
jatah lebih banyak waktuku.
Mulailah konsistensiku diuji…
Aku memang masih banyak menulis, tapi bukan untukku. Untuk
lembaga, karena aku juga adalah penanggungjawab komunikasi internal. Jadi, aku
sibuk menulis di Web Internal untuk mengingatkan tentang Ramadhan, sosialisasi
kebijakan, memberikan motivasi, de el el… akhirnya, blog-ku kembali terlupakan.
Dan…. Novel pun terbengkalai. Aku baru
sadar dipertengahan Juli bahwa novelku masih jauh dari target,,,, menilik
aktivitas yang makin padat menjelang Ramadhan, aku pun menutup draft novel itu
dan memastikan untuk tidak menyelesaikannya… saat ini…. meski sebenarnya masih
ada 15 harian lagi akhir kompetisi itu….
Aku pun kembali kehilangan… moment…. :(
“Banyak kegagalan dalam hidup ini
dikarenakan orang-orang
tidak menyadari
betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka
menyerah”
(Thomas Alva Edison)
Yaaa kejadian itu kini terlintas kembali… dan aku
menyesalinya. Dia berikan kesempatan, tapi aku sendiri tak meyakini aku mampu,
dan membuang kesempatan itu -______-
Kembali ke masa kini.
Blog seorang adik bernama Nadhira telah membuatku kembali
bersemangat. Tak hanya untuk menulis, namun juga untuk kembali merangkai
mimpi-mimpi yang tercerai berai. Aku pun kembali bangkit dan mulai menatanya.
Kau tau temans, apa yang terjadi?
Tak perlu menunggu lama, sebab keesokan harinya, Allah mempertemukan
aku dengan seseorang dan berdiskusi panjang lebar. Hingga, aku pun
memutuskan untuk mulai menapaki apa yang Ayahku dulu tapaki. Satu bidang yang
selama ini hatiku inginkan, tapi aku menghindarinya. Dan tak hanya sampai
disana, 2 hari lalu, seorang teman lainnya memberikan informasi yang juga
menjadi ‘sebuah pertimbangan’ untukku merubah segalanya.
Memang, semua ‘jawaban’ yang diberikan-Nya itu tidak langsung pada
pokoknya. Aku sendiri harus ‘rehat sejenak’ untuk menganalisa. Sampai
akhirnya menyadari bahwa Dia sedang mulai 'bekerja', memberikan benang merah antara lintasan
hatiku dan kenyataan yang harus dijalani untuk bisa menuju kesana.
Subhanallah….
Ibaratnya, aku meminta diberikan ikan bawal, dan Dia memberiku
buku ‘Entrepreneurship’. Nampak ga nyambung kan??? Tapi, jika kita mau
meluangkan sedikit waktu untuk merenungkan dan mengoptimalkan apa yang
diberikan-Nya, kita pasti akan menemukan hubungannya.

Aku telah sampaikan pada-Nya apa mimpiku.
Aku telah serahkan pada-Nya deadline hidupku.
Menatap langit yang cerah. Mengangkat tanganku dan
kupastikan jariku menyentuh awan-awan putih yang berarak diantara lautan biru.
“Aku akan menjemputmu yang telah lama kubiarkan sendiri
disana menungguku. Dalam keresahanmu, apakah sebenarnya aku peduli atau tidak.
Aku akan buktikan, tak lama lagi, kau akan kujemput.
Kini aku tengah meniti tangga emas menujumu. Sabarlah, aku
akan menjemputmu… MIMPIKU…”
Salam Hangat,
Yaya, Sang Pemimpi