Selasa, 24 April 2012

Mencari Keindahan Pagi

Mencari keindahan pagi
menepis aura hati yang tak menentu
Aku suka kau… pagi,
Karena hadirmu selalu memberi pertanda baik
Pertanda ada kesempatan
Pertanda ada harapan

Setiap kali malam membuatku gelisah
Aku berharap waktu bisa berjalan lebih cepat
Membawaku dengan kereta kencananya
Untuk segera bertemu denganmu

Melihatmu mulai menampakkan diri dari kegelapan
Hatiku merasa lega, bahagia…. Senang
Dengan perlahan dan malu-malu kau munculkan cahaya diufuk timur
Awan-awan hitam yang dengan angkuh menguasai malam
Tak ayal menyingkir perlahan dan membiarkan si putih sedikit demi sedikit tersibak
Semakin jelas dan semakin jelas

Hadirmu,
Disambut kicauan burung pipit disebelah rumahku
Disahut kokokkan ayam peliharaan ibu
Diaminkan olehku yang menantimu dengan harap-harap cemas

Hadirmu
Selalu berhasil meyakinkan aku
Bahwa Dia menginginkan karyaku dihari ini
Sebuah karya yang lebih baik
Bahwa Dia masih mempercayaiku
Mempercayaiku untuk masih merasakan irama detak jantung yang memburu dengan cepat
Detak jantung yang gelisah menantimu

Pagi... Aku bukan orang yang pandai mengungkapkan isi hati
Bukan pula orang yang mudah mengakui rasa
Tapi, aku ingin bilang
Aku selalu kagum pada indahmu
Dengan segala hal yang terjadi mengiringi kehadiranmu
Penuh makna dan menyiratkan hikmah

Pagi… Janji ya padaku
Besok kau akan kembali dengan senyum yang lebih indah ^_^


Salam Hangat
Yaya

Rabu, 18 April 2012

"Mencintai" atau "Menyelamatkan Diri"


Pagi ini saya mendapati diri dalam kebimbangan antara mencintai atau menyelamatkan diri.

Setidaknya, saya ingat ada sekitar 4 percakapan dalam drama Korea Full House yang membahas tentang mencintai.

'Ketika kau mencintai seseorang, maka kau akan melindunginya. Bukan hanya melindungi fisiknya saja, tapi juga hatinya. Melindunginya agar tidak terluka, melindunginya agar selalu bahagia. Meski dalam proses melindungi itu, hati kita tercabik-cabik.'

Kurang lebih seperti itu yang saya tangkap dari beberapa percakapan.

Mencintai berarti melindungi. Melindungi merupakan kata kerja aktif dan mengandung makna memberi. Maka mencintai juga merupakan kata lain dari memberi. Memberi tiada henti, tak peduli kita akan mendapat balasan atau tidak. Tak peduli jiwa dan raga kita terluka karenanya. Karena, melihatnya bahagia membuat kita lupa bahwa kita telah banyak berkorban. Rasanya semua rasa sakit dan kelelahan sirna seiring senyumnya yang terkembang.

Begitu dahsyatnya Cinta.... Melindungi.

Namun, kemudian saya terjebak dalam rasa yang saya pertanyakan. Sampai sekarang, saya tidak tahu definisi cinta yang sebenarnya. Ada banyak definisi, ada banyak arti. Seperti apa rupa cinta, saya pun tak tahu pastinya. Sebab ia bisa menyerupai apa saja. Tapi yang pasti, satu yang saya yakini... Cinta adalah kebaikan, maka ia pun akan selalu membawa kebaikan. Tatkala bukan kebaikan yang hadir, maka, mungkin kita telah salah mengartikan antara rasa cinta dan nafsu.

Kembali kepada perasaan yang tengah saya rasakan.
Apakah memang seorang pencinta itu harus selalu berkorban untuk yang dicintainya tanpa dia peduli pada dirinya? Ataukah seharusnya ada sebuah 'proposionalisme' alias keseimbangan dalam proses mencintai? Atau tergantung siapa dan apa yang kita cintai?

Sebenarnya, saya sudah punya jawaban sendiri atas 3 pertanyaan itu. Tapi mungkin, saat ini saya sedang mencari pembenaran diri dengan kembali melemparnya dicoretan ini. Saya berharap ada yang berpikiran sama dengan saya dan memberikan sebuah penjelasan yang semakin meyakinkan saya untuk memutuskan.

Menurut saya, dalam mencintai harus ada keseimbangan. Tak hanya terus berkorban dan menjadikan diri kita hancur lebur asalkan yang kita cinta bersinar. Bagi saya, itu bagian dari mendzolimi diri sendiri. Bukankah Allah juga tidak suka kepada segala hal yang berlebihan?? Bahkan dalam menempatkan antara kepentingan dunia dan akhirat pun, kita diperintahkan untuk seimbang. Artinya tidak terlalu menggugu dunia, tapi tidak juga terus menerus mengejar akhirat hingga kita lupa bahwa kita masih hidup.

Keseimbangan adalah kunci kebahagiaan.

Kemudian, saya ingin bertanya. Ketika kita mencintai sesuatu atau seseorang, kemudian yang kita cintai itu memutuskan satu hal yang akan menghancurkannya. Sayangnya, saat itu kita mendapati diri tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan melihatnya roboh sedikit demi sedikit. Apa yang akan Sobat lakukan? Berdiam diri dan terus melihatnya, menyaksikan dan mendampingi proses kehancurannya? Atau pergi.... karena tak sanggup melihatnya hancur.

Yang manakah yang Sobat pilih?
Apakah ketika kita ambil opsi untuk pergi, atas ketidaksanggupan kita itu berarti kita tidak mencintai? Apakah itu kita berarti kita tengah menyelamatkan diri, menyelamatkan hati kita dari rasa sakit? Apakah itu berarti kita tak melindungi, tak memberi?

Cinta adalah memberi
Cinta adalah melindungi
Cinta adalah rasa
Cinta adalah memori
Cinta adalah imajinasi
Cinta adalah toleransi
Cinta adalah peduli
Dan... Cinta adalah menyayangi diri sendiri...

Salam takzim
Yaya

Senin, 29 Agustus 2011

Jelang Syawal... Dalam Dekapan Cinta-Mu

Kumandang cinta bergema hingga ke hati
Lafaz-lafaz asmara memanggil jiwa yang rapuh

Rapuhnya aku, Kau Maha Tahu
Pagi siang malam, dunia yang kutuju
Saat kujatuh baru kusadar, Kau-lah segalanya

Tuhan kuangkat kedua tanganku
Sudikah Engkau menerima cintaku
Berdarah-darah akan kutempuh
Menggapai tarikat cinta-Mu

Tujuh syurga pun aku tak pantas
Menerima diri yang bersimbah dosa
Kuharap cinta dan ampunan-Mu
Setinggi arays-Mu
Seluas semesta cinta


Rabbi, dipenghujung Ramadhan yang mulia ini, aku tertegun disini, masih di ruangan yang sama.
Ruangan yang jadi tempatku berkarya sejak hari pertama Ramadhan-Mu tiba.
Ruangan yang menjadi saksi setiap keluh kesah atas kesibukan, sedu sedan tangisan atas rasa cinta yang terasa membuncah dan saksi atas ikhtiar untuk mengejar target ibadah Ramadhan.

Kini, di ruangan ini, aku mengangkat tanganku...
"Allah, ku angkat kedua tanganku. Sudikah Engkau menerima cinta dan ibadahku selama Ramadhan...?
Cinta dan Ibadah yang mungkin saja hanya sisa dari kelelahan atas kesibukanku.
Ibadah yang kukerjakan ditengah keresahan dan kadang tidak jua fokus.
Ampuni aku, berikah rahmat dan maghfirah-Mu padaku... Dengan cinta-Mu, jangan biarkan Ramadhan-ku menjadi sia-sia bahkan tak berarti apa-apa. Amin"

Salam Takzim
Yaya





Rabu, 10 Agustus 2011

RESAH


Ketika panas menjadi terasa dingin, ketika waktu menjadi terasa melambat
Mata memanas, tapi air mata kesejukkannya tak kunjung keluar
Tersenyum, tapi hati menangis…
Rasa yang aneh… tak mampu dikatakan apalagi digambarkan
Mungkin tak begitu penting untuk dibahas, tapi cukup sulit untuk dilepas
Tidak jelas… 

                                                                                                    Salam Takzim : Yaya

Rabu, 03 Agustus 2011

Harmonisasi

@Villa Lemon-Lembang

Perpaduan gelap dan terang, bisa jadi siluet yang indah
Maka dari itu, Allah ciptakan segala sesuatu berpasangan untuk perpadu
Sehingga terlihatlah harmonisasi yang luar biasa

Salam Takzim
Yaya ajah

Selasa, 02 Agustus 2011

Ramadhan Bersamamu

                                 ~View dari lantai 2 rumah ~


Duduk ditepian Sya'ban... 
Menatap mentari yang semakin memerah dan menurun...
Perlahan-lahan dia pergi....

Kini,,, aku duduk kembali menatap langit
Berada dalam dekapan Ramadhan yang indah

Ramadhan ini terasa lebih penuh berkah
Bersamamu dalam dekapan dakwah ^^


Bandung, 2 Agustus 2011
Disuatu sore, di ruang meeting....

Kamis, 28 Juli 2011

Merajut Harapan


Mohon dengarkan aku malam ini
Untuk ringankan langkah kaki
Dengarkan…

Do’aku semoga aku tak terlambat
Memberi yang terbaik dari hidupku
Semoga Kau terima semua ibadahku
Masukkanlah diriku tuk kekal di syurga-Mu

Mohon pilihkan dari yang kupinta
Pilih yang terbaik untukku
Do’aku…

Do’aku by Ali

Harapan ibarat sayap bagi burung. Dengannya, ia dapat terbang menjelajah kemana pun ia mau. Tak terbatas dan bebas. Maka, wajarlah bila disebutkan bahwa manusia hidup dengan harapan-harapannya, jika ia sudah tidak memiliki harapan, maka ia tidak akan bisa bertahan hidup.

Harapan ibarat air bagi ikan. Dengannya, ia dapat menjelajah dunia, berenang-renang dengan bebas di lautan lepas. Meski Nampak tak terbatas, tapi selalu ada arah yang dituju, selalu ada jalan yang jadi panduan. Maka, begitulah manusia, meski ia bebas dengan semua harapannya, tapi ada tujuan yang hendak dicapai dari semua harapan itu. Tujuan yang akan membuatnya mampu mempertahankan harapan-harapan dalam dirinya.

Harapan ibarat obat bagi tubuh yang sakit. Dengannya, ia dapat pulih dan mampu mengejar apa yang dituju. Memang kadang terasa sangat pahit, tapi ia bisa menyembuhkan hati yang sakit dan pikiran yang terluka. Ia bisa meyakinkan qalbu yang ragu bahwa kita cukup kuat untuk menjalani kehidupan.

Harapan… adalah harta berharga yang tak mungkin aku jual bahkan hingga nyawa hendak terlepas dari raga. Karena dengannya aku bisa membalikkan keadaan sesulit apapun. Dengannya, aku bisa menekan rasa takut dan memunculkan keberanian. 

Harapan… adalah ikatan paling akhir yang mengikatku dari ruh kehidupan. Maka, selagi Dia memberikan aku waktu, aku tak akan pernah melepaskan ikatan itu. Menahannya dan memastikan ia tetap kuat mengikatku hingga waktu melepasnya tiba…. Yaitu, saat bertemu dengan Pemilik Harapan itu sendiri. 

Merajut harapan. Itulah tema hari-hariku kini. Meski benang-benang ini Nampak usang, warna sudah tak jelas bahkan rusak. Bagian-bagian benangnya sudah mulai tak beraturan, ada juga helaiannya yang keluar dari ikatan. Tapi, aku tetap berusaha menyatukannya dan merajutnya dengan jarum yang masih kuat walau terlihat berkarat. Aku akan terus merajutnya dan membentuknya menjadi sesuatu…. Sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang indah, sesuatu yang akan membuat orang lupa bahwa ini berasal dari benang-benang yang sudah rapuh dan hampir akan dibuang.

Merajut harapan dan menjaga keoptimisan. Meski ternyata aku tak sanggup menyelesaikan rajutan ini, karena waktuku telah tiba. Setidaknya, aku termasuk golongan orang yang bersungguh-sungguh dan jauh dari putus asa. Semoga itu jadi tabungan amal untuk pertimbangan-NYA kelak.

Salam Semangat
Yaya


Bacaan Populer